Film yang
bergenre drama ini diangkat dari novel yang berjudul sama dengan film nya “Ketika
Tuhan Jatuh Cinta” karya Wahyu Sunjani terbitan Diva Press pada tahun 2009. Pemain
di film ini antara lain Reza Rahadian,
Aulia Sarah, Renata Kusmanto, Enzy Storia, Ibnu Jamil dan berdurasi 105 menit. Ravi
Pridhnani, Andy Shafik ikut andil sebagai produser dalam
film ini dengan Fransiska
Fiorella sebagai sutradaranya. Film “ Ketika Tuhan
Jatuh Cinta” beredar pada tanggal 05 Juni 2014.
Meski punya bakat lebih dalam membuat lukisan
pasir, Fikri (Reza Rahadian) yang mempunyai keinginan untuk kuliah ditentang
oleh ayahnya (Joshua Pandelaki) yang memilih Fikri untuk menjadi marbot masjid.
Dukungan ibunya (Dewi Irawan) serta adiknya, Humaira (Tamara Tyasmara) pun tak
bisa mencegah kekerasan hati sang ayah yang menyebabkan Fikri terpaksa keluar
dari rumahnya di kawasan pantai Garut, Jawa Barat.
Hidup semrawut
sambil menitipkan lukisannya ke galeri Koh Acong (Didi Petet) dengan anak
perempuan cantiknya Lidya (Renata Kusmanto) yang sangat suportif menyiapkan
pameran buat Fikri. Fikri yang masih mengagumi pujaan hatinya semasa kuliah,
Leni (Aulia Sarah) yang sudah menjadi asisten dosen di sebuah perguruan tinggi.
Sebenarnya, jauh di dasar hatinya Leni menyukai Fikri. Namun selayaknya
gadis muslimah yang terjaga perilakunya, Leni hanya menyimpan rapi perasaannya
pada Fikri. Bahkan Irul, sahabat Fikri yang tampan, kaya dan terkenal playboy
di kampus pun ditolak Leni. Setelah
wisuda dan harus berpisah jauh, barulah perasaan cinta Leni dan Fikri saling
terungkap. Mereka pun sejenak melambung. Namun, ketika keduanya mempersiapkan
rencana khitbah, Leni dan Fikri harus menerima kenyataan bahwa Leni akan
dijodohkan dengan lelaki lain. Leni
dijodohkan oleh ayahnya (Roy H.Karyadi) sementara Fikri menolak ajakan Leni
untuk kawin lari. Sementara Lidya malah jatuh ke dalam pelukan Irul (Ibnu Jamil),
sahabat Fikri yang playboy hingga hamil dan Humaira terpaksa melepas jilbabnya
diam-diam agar diterima bekerja di sebuah hotel. Sebagai seorang kakak,
Fikri berusaha menyadarkan Humaira. Ujian kembali datang ketika ayah ibu Fikri
meninggal dunia pada saat yang bersamaan.
Ketika Leni yang tidak bahagia dengan pernikahan
paksanya berniat melepaskan diri, Fikri justru mulai dekat dengan Shira (Enzy
Storia), seorang penggemar setia lukisannya, dan pasca kecelakaan hubungannya
dengan Irul, Lidya yang berbeda agama malah mulai menggantungkan hatinya pada
Fikri. Semula Shira ini hendak dijodohkan dengan Irul, namun perjodohan
itu gagal. Pada suatu pertemuan Fikri diam-diam jatuh hati pada Shira. Tapi konflik
selanjutnya masih menggantung karena Shira yang berniat untuk pergi beralajar
di negri Perancis dan filmnya habis di bagian itu yang akan berlanjut ke film “Ketika
Tuhan Jatuh Cinta 2”.
Dari film tersebut, juga dapat dikatakan bahwa AAC merupakan film bergenre cinta. Hal ini karena yang menjadi perhatian dari film AAC justru kisah percintaan Fahri sebagai tokoh utama dengan beberapa wanita yang ada di sekelilingnya yaitu Aisyah, Noura dan Maria. Dalam film AAC ketiga tokoh wanita tersebut di ceritakan sangat mengagumi sosok Fahri. Walaupun demikian tak pantas dipermasalahkan karena yang berhak menilai sebuah karya seni khususnya film adalah publik atau masyarakat.
Menurut saya dalam film “ Ketika Tuhan Jatuh Cinta” judulnya sangat aneh dan membuat saya bernegatif thinking. Judul yang biasanya merupakan pandangan pertama dan sangat berpengaruh dalam ketertarikan calon penonton, sangat mengecewakan. Selain dari judul, film ini juga mempunyai alur cerita yang sangat berdrama dan kurang menarik. Tetapi ada kekurangan pasti akan ada kelebihannya. Kelebihan dari film “ Ketika Tuhan Jatuh Cinta” adalah sangat menjunjung tinggi ajaran islam dan kesopanan, terlihat saat Humaira yang melepaskan kerudungnya tetapi akhirnya memakainya kembali dan Fikri yang tabah saat tidak mendapatkan restu ayahnya untuk berkuliah, Fikri dan Humaira juga berlapang dada saat kedua orangtuanya secara bersamaan meninggal dunia.
Dari film ini kita diajarkan untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada dan pantang menyerah dalam segala masalah. Kita mungkin akan mendapatkan masalah, tetapi Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba yang takwa kepada-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya. Kesadaran akan beragama juga ditonjolkan dalam film ini.
di ambil dari berbagai blog (sumber)





Reviewnya bagus, setuju sama evaluasi dan rangkumannya. Tapi agak sedikit bingung, knp ada AAC ya? Hehe mksh
BalasHapusuntuk film lanjutannya yg ke2 udh pernah ditayangin belum ya?
BalasHapuskpn yang keduanya
BalasHapus