Jumat, 20 Maret 2015

Review Film “ Ketika Tuhan Jatuh Cinta”




    Film yang bergenre drama ini diangkat dari novel yang berjudul sama dengan film nya “Ketika Tuhan Jatuh Cinta” karya Wahyu Sunjani terbitan Diva Press pada tahun 2009. Pemain di film ini antara lain Reza Rahadian, , , , dan berdurasi 105 menit. Ravi Pridhnani, ikut andil sebagai produser dalam film ini dengan Fransiska Fiorella sebagai sutradaranya. Film “ Ketika Tuhan Jatuh Cinta” beredar pada tanggal 05 Juni 2014.


    Meski punya bakat lebih dalam membuat lukisan pasir, Fikri (Reza Rahadian) yang mempunyai keinginan untuk kuliah ditentang oleh ayahnya (Joshua Pandelaki) yang memilih Fikri untuk menjadi marbot masjid. Dukungan ibunya (Dewi Irawan) serta adiknya, Humaira (Tamara Tyasmara) pun tak bisa mencegah kekerasan hati sang ayah yang menyebabkan Fikri terpaksa keluar dari rumahnya di kawasan pantai Garut, Jawa Barat.
 
    Hidup semrawut sambil menitipkan lukisannya ke galeri Koh Acong (Didi Petet) dengan anak perempuan cantiknya Lidya (Renata Kusmanto) yang sangat suportif menyiapkan pameran buat Fikri. Fikri yang masih mengagumi pujaan hatinya semasa kuliah, Leni (Aulia Sarah) yang sudah menjadi asisten dosen di sebuah perguruan tinggi. Sebenarnya, jauh di dasar hatinya Leni menyukai Fikri. Namun selayaknya gadis muslimah yang terjaga perilakunya, Leni hanya menyimpan rapi perasaannya pada Fikri. Bahkan Irul, sahabat Fikri yang tampan, kaya dan terkenal playboy di kampus pun ditolak  Leni. Setelah wisuda dan harus berpisah jauh, barulah perasaan cinta Leni dan Fikri saling terungkap. Mereka pun sejenak melambung. Namun, ketika keduanya mempersiapkan rencana khitbah, Leni dan Fikri harus menerima kenyataan bahwa Leni akan dijodohkan dengan lelaki lain. Leni dijodohkan oleh ayahnya (Roy H.Karyadi) sementara Fikri menolak ajakan Leni untuk kawin lari. Sementara Lidya malah jatuh ke dalam pelukan Irul (Ibnu Jamil), sahabat Fikri yang playboy hingga hamil dan Humaira terpaksa melepas jilbabnya diam-diam agar diterima bekerja di sebuah hotel. Sebagai seorang kakak, Fikri berusaha menyadarkan Humaira. Ujian kembali datang ketika ayah ibu Fikri meninggal dunia pada saat yang bersamaan.



     Ketika Leni yang tidak bahagia dengan pernikahan paksanya berniat melepaskan diri, Fikri justru mulai dekat dengan Shira (Enzy Storia), seorang penggemar setia lukisannya, dan pasca kecelakaan hubungannya dengan Irul, Lidya yang berbeda agama malah mulai menggantungkan hatinya pada Fikri. Semula Shira ini hendak dijodohkan dengan Irul, namun perjodohan itu gagal. Pada suatu pertemuan Fikri diam-diam jatuh hati pada Shira. Tapi konflik selanjutnya masih menggantung karena Shira yang berniat untuk pergi beralajar di negri Perancis dan filmnya habis di bagian itu yang akan berlanjut ke film “Ketika Tuhan Jatuh Cinta 2”.




    Film Ayat Ayat Cinta mengisahkan tentang perjalanan seorang mahasiswa Indonesia bernama Fahri yang tengah menempuh pendidikan di Al Azhar Mesir. Seperti yang dikisahkan dalam novel, Fahri adalah seorang pemuda yang berasal dari Jawa, kemudian mendapat beasiswa dari  Departemen Agama (Depag) untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, tepatnya lagi di Universitas tertua di dunia yaitu Al Azhar Mesir. Dalam film tersebut dikisahkan perjuangan seorang mahasiswa Indonesia yang merantau ke negeri orang, hidup penuh keprihatinan, tinggal di flat murah dengan teman-temannya sesama mahasiswa Indonesia demi meraih impiannya.
    Dari film tersebut, juga dapat dikatakan bahwa AAC merupakan film bergenre cinta. Hal ini karena yang menjadi perhatian dari film AAC justru kisah percintaan Fahri sebagai tokoh utama dengan beberapa wanita yang ada di sekelilingnya yaitu Aisyah, Noura dan Maria. Dalam film AAC ketiga tokoh wanita tersebut di ceritakan sangat mengagumi sosok Fahri. Walaupun demikian tak pantas dipermasalahkan karena yang berhak menilai sebuah karya seni khususnya film adalah publik atau masyarakat.



     Menurut saya dalam film “ Ketika Tuhan Jatuh Cinta” judulnya sangat aneh dan membuat saya bernegatif thinking. Judul yang biasanya merupakan pandangan pertama dan sangat berpengaruh dalam ketertarikan calon penonton, sangat mengecewakan. Selain dari judul, film ini juga mempunyai alur cerita yang sangat berdrama dan kurang menarik. Tetapi ada kekurangan pasti akan ada kelebihannya. Kelebihan dari film “ Ketika Tuhan Jatuh Cinta” adalah sangat menjunjung tinggi ajaran islam dan kesopanan, terlihat saat Humaira yang melepaskan kerudungnya tetapi akhirnya memakainya kembali dan Fikri yang tabah saat tidak mendapatkan restu ayahnya untuk berkuliah, Fikri dan Humaira juga berlapang dada saat kedua orangtuanya secara bersamaan meninggal dunia.

     Dari film ini kita diajarkan untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada dan pantang menyerah dalam segala masalah. Kita mungkin akan mendapatkan masalah, tetapi Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba yang takwa kepada-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya. Kesadaran akan beragama juga ditonjolkan dalam film ini.


di ambil dari berbagai blog (sumber)

Selasa, 03 Maret 2015

Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


       Tenggelamnya Kapal Van der Wijck diadaptasi dari novel mahakarya sastrawan sekaligus budayawan Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau Hamka, dan menjadi film termahal yang pernah diproduksi oleh Soraya Intercine Films.

       Observasi, proses praproduksi, pemilihan pemeran, sampai penulisan skenariopun dimulai sejak tahun 2008. Untuk proses penyuntingan dilakukan selama 4-5 bulan setelah proses syuting selama 6 bulan dengan 300 adegan. Hasilnya, film ini berakhir dengan durasi selama 2 jam 49 menit. Di film ini, jumlah pemain ada 600 orang yang 100 diantaranya orang bule. Pemain dalam film ini antara lain ; Pevita Pearce (Hayati), Herjunot Ali (Zainuddin), Reza Rahadian (Aziz), Randy Danistha (Muluk), Arzetti Bilbina (Ibu Muluk), Jajang C. Noer (Mande Jamilah), Niniek L. Karim (Mak Base), Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto (Datuk Hayati), Gesya Shandy  (Khadijah).

       Tahun 1930,  Zainuddin  berlayar ke tanah kelahiran ayah  nya di Batipuh, Padang Panjang untuk berilmu tentang keagamaan, di Batipuh ini dia tinggal di rumah Mande Jamila. Ia pun bertemu gadis cantik yang dapat memikat hatinya, Hayati. Di tanah Minangkabau, Zainuddin tidak di anggap orang Minang melainkan orang Bugis (Makassar). Itu yang menjadi kendala Zainuddin untuk mendapatkan cintanya. Hayati seorang anak dari kepala adat Batipuh ternyata juga mencintai Zainuddin. Karena kekuatan adat, Zainuddin dan Hayati pun hanya bisa saling surat menyurat. Hubungan mereka sangatlah ditentang oleh warga Batipuh. Hingga akhirnya, Zainuddin di usir dari Batipuh dengan alasan jika niat awal Zainuddin untuk belajar tentang keagamaan , dia bisa pergi ke Bukit Tinggi. Sebelum Zainuddin pergi, Hayati menghampiri Zainuddin dan berkata bahwa dia akan menunggu Zainuddin.

       Di Bukit Tinggi ini, Zainuddin tinggal di rumah keluarga Mak Base dan bertemu dengan Muluk anak laki laki Mak Base. Mereka pun bersahabat. Tak lama Hayati pun pergi ke Bukit Tinggi yang niat sebenarnya bertemu Zainuddin tapi dia beralasan mengunjungi teman nya Khadijah. Khadijah mempunyai seorang kakak laki laki, Aziz. Aziz pun bertemu dengan Hayati dan terpana akan kecantikannya. Ibu nya Aziz meminta dia untuk menikahi Hayati, karena di mata ibu nya Hayati anak yang santun dan baik.

       Aziz pun mengirim surat untuk melamar Hayati dan ternyata Zainuddin juga mengirim surat melamar. Ketua adat dan para tetua Batipuh merundingkan dua surat tersebut. Hingga akhirnya, surat lamaran Aziz lah yang diterima. Hayati sudah tidak bisa mengelak atas keputusan itu. Dia akhirnya mengirim surat kepada Zainuddin yang menjelaskan bahwa mereka tidak pantas bersama.



       Selepas membaca surat itu, Zainuddin jatuh sakit, sakit akan hati, cinta, dan pengharapannya. Dalam sakitnya, Zainuddin hanya memikirkan cintanya. Hayati pun menjenguk Zainuddin, tapi sangat disayangkan bahwa dia pergi bersama Aziz yang sudah menjadi suami sahnya. Berbulan bulan dia terpuruk akan cintanya, Zainuddin bangkit untuk meneruskan hidupnya. Dimulai dengan,  Zainuddin dan Muluk merantau ke Batavia. Di sana, Zainuddin membuat karya tulis yang akhirnya disukai oleh pembaca - pembaca. Dia pindah ke Surabaya dan menjalankan produksi karya kaya tulis. Akhirnya, kesuksesan pun didapatkannya.

       Berbeda dengan kehidupan Hayati yang tidak terlalu harmonis dengan Aziz. Sampai akhirnya Aziz bangkrut dan mencoba meminta tolong kepada Zainuddin. Berminggu - minggu Aziz dan Hayati tinggal bersama Zainuddin, Mereka pun merasa tidak enak. Azizpun  beralasan ingin mencari kerja dan meninggalkan Hayati di rumah Zainuddin. Tiba-tiba datanglah berita bahwa Aziz meninggal dan ia menceraikan Hayati dengan harap Hayati dan Zainuddin bisa bersatu kembali.

        Masa lalu hanyalah masa lalu, ego Zainuddin tidak bisa menerima Hayati dan sangat berbeda dengan hatinya. Zainuddin pun meminta Hayati untuk kembali ke Tanah Minangkabau. Hayati yang sangat mencintai Zainuddin tidak bisa menerimanya, tapi apalah daya Hayati pun akhirnya akan pulang ke tanah Minangkabau dengan hati sedih dan terpaksa.

       Hayati pulang ke tanah Minangkabau dengan menggunakan Kapal Van Der Wijck. Tiba-tiba Kapal Van Der Wijck itu tenggelam dan Hayati tidak bisa di selamatkan. Sebelum Hayati pergi untuk selamanya, Zainuddin bertemu dengannya untuk melihat cintanya. Setelah Hayati cinta satu-satunya itu meninggal. Zainuddin mulai bangkit kembali.

       Dari film ini,  kita banyak mengetahui akan kebudayaan adat yang kuat di Indonesia khususnya di Tanah Minangkabau, kuat akan adat dan agama yang dianutnya. Namun kekurangan di film ini adalah saat menit menit awal kita menonton nya 'perasaan' (ingin tahu, sedih, bahagia,  nyaman saat menonton) yang kita dapatkan kurang. Baru saat akhir akhir 'perasaan' itu muncul. Munculnya 'perasaan' itu juga didukung oleh soundtrack yang digunakan dalam setiap scene. Kurang panjang dan kurang menonjolkannya adegan tenggelamnya kapal van der wijck, padahal itu adalah judul film (pandangan pertama calon penonton).

       Indonesia kaya akan kebudayaan, adat dan ras. Dari pemaparan film di atas menggambarkan arti cinta sejati yang tidak akan berubah dari waktu ke waktu dan arti cinta sejati di atas perbedaan. Perbedaan adat lah yang membuat mereka belajar aikan cinta sejati mereka.